UBER Kembali PHK Karyawan




UBER kembali melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) sebanyak 350 karyawan. PHK dilakukan di beberapa tim yang berbeda. Hal ini merupakan yang ketiga kalinya dan merupakan gelombang terakhir dari serangkaian gelombang PHK yang telah dimulai sejak beberapa bulan yang lalu.
Menurut CNN, tim yang terkena gelombang PHK tersebut merupakan tim perekrutan, teknologi canggih, platform dan tim wahana global. Lebih dari 70% karyawan yang terkena PHK berasal dari Amerika Serikat dan Kanada.

Tanggapan CEO Uber Seputar PHK Karyawan

Menurut CEO UBER, Dara Khoroswshahi berpendapat bahwa PHK dilakukan untuk membuat perusahaan lebih kuat dan lebih maju. Dikutip dari CNN, pihak perusahaan telah melihat tim-tim yang ada dan untuk memastikan organisasi UBER telah terstruktur untuk beberapa tahun kedepan.
Pemangkasan tersebut diklaim berat namun, keputusan ini perlu diambil untuk memastikan bahwa perusahaan memiliki kinerja terbaik di lapangannya. Tentunya, hal ini menunjukkan bahwa UBER melakukan pemangkasan agar berjalan efektif.
Pemangkasan dilakukan untuk menghilangkan birokrasi, pekerjaan yang duplikat dan membangun sebuah atmosfir kerja yang baru. Pemangkasan dilakukan mulai bulan Juli 2019 lalu dengan 400 orang. Pada gelombang kedua, pemangkasan karyawan dilakukan sejumlah 435 karyawan. Terakhir, mereka melakukan pemangkasan sejumlah 350 karyawan sehingga, total karyawan yang telah dipangkas berjumlah 1185 karyawan, sepertiga karyawan dari UBER.
Hal ini telah lama ingin dilakukan oleh UBER. Menurut sang CEO, jumlah tim UBER terlalu besar dan menciptakan pekerjaan yang tumpeng tindih. Selain itu, pembuat keputusan juga tidak jelas dan hasil yang dihasilkan bisa biasa saja. Faktor tersebut dikhawatirkan dapat berdampak pada hasil kerja perusahaan sehingga, PHK dilakukan untuk menaikkan standar perusahaan.
Selain itu, 2 eksekutif puncak UBER telah hengkang pada Juni 2019 lalu termasuk Rebecca Messina, kepala pemasaran UBER. Hal itu juga berdampak pada keputusan perusahaan untuk melakukan perampingan.
Masalah ini tentunya juga disebabkan oleh kondisi keuangan yang sempat menurun pada bulan Mei lalu. Di Wall Street, kondisi keuangan UBER sempat melantai dan mengakibatkan perusahaan sempat tidak stabil sehingga, masalah ini sempat membuat UBER dipandang berbahaya.

No comments

Powered by Blogger.