Gojek Indonesia Akan Akhiri Era Bakar Uang?




Salah satu perusahaan yang telah menjadi unicorn Indonesia, Gojek diklaim akan mengakhiri era bakar uang. Hal ini menandakan era baru dimana, perusahaan sudah mampu mencetak pencapaian profit serta menjalankan usaha secara berkelanjutan dan sehat.
Gojek Indonesia Ingin Raih IPO agar keuangan lebih kuat
Vice President Corporate Affair Gojek, Michael Say mengatakan bahwa setiap perusahaan termasuk Founder Gojek, ingin agar perusahaan bisa melakukan IPO (Initial Public Offering) dalam 3 hingga 4 tahun kedepan seperti dilansir dari Kompas.
Ia memberikan gambaran mengenai berapa besar uang yang bisa dihasilkan dalam setiap trip jika Gojek memberikan bonus atau subsidi sebesar Rp. 50 saja dan ada 100 juta transaksi yang ada setiap bulannya.
Salah satu cara agar bisa IPO adalah dengan memiliki laporan yang hijau dan untuk mencapainya, pihak Gojek tidak membakar uang lagi sehingga, mereka bisa mencapai keuntungan yang maksimal dan meraih IPO.
Head Regional Affair Gojek untuk wilayah Jateng, Arum. K Prasojo, Michael menyatakan bahwa Gojek bertekad untuk menghasilkan laporan yang hijau. Agar bisnis berkelanjutan, Gojek akan memperhatikan pilar yang lain karena, ada banyak pihak yang berkepentingan dalam ekosistem tersebut seperti merchant, user, pemerintah, dan pengemudi/pengendara.
Lewat Gojek, ia berharap agar semua orang bisa tumbuh berkelanjutan dalam platform super app untuk pelayanan uang, barang, dan juga orang.
Gojek Indonesia semakin berkembang
Menurut data dari Kompas, aplikasi Gojek telah diunduh oleh 125 juta kali dan lebih dari 300.000 merchants dan telah beroperasi di 207 kota dan kabupaten di Indonesia. Gojek menjadi perusahaan aplikasi terbesar kedua di Indonesia dan telah berekspansi ke beberapa negara di Asia Tenggara seperti, Thailand, Vietnam, Filipina, dan Singapura.
Salah satu layanan Gojek yang diminati banyak orang adalah Gofood. Layanan Gofood tumbuh pesat karena budaya orang Indonesia yang suka makan sehingga layanan tersebut tumbuh pesat di tanah air.
Hal itu turut dibuktikan oleh tingginya transaksi makanan yang dipesan. Michael mengatakan, transaksi ayam geprek sepanjang tahun 2018 tercatat ada 2,1 juta transaksi dan belum makanan populer lainnya seperti martabak.



No comments

Powered by Blogger.